Apresiasi untuk Pengusaha Warteg yang Sudah Bayar Royalti Penggunaan Musik di Tempat Usaha
Apalagi, saat ini platform manajemen royalti digital seperti PlayUp sudah mulai digunakan di berbagai warteg khususnya di Jabodetabek.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Â Ketua Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Dharma Oratmangun mengapresiasi sejumlah warteg yang telah membayar royalti atas penggunaan musik di tempat usaha mereka. Ia menyebut, langkah ini menjadi contoh baik bagi pelaku usaha lain dalam menghargai hak cipta musisi.
Baca juga: Pedagang Warteg Keluhkan Sulit Cari Elpiji 3 Kg
Apalagi, saat ini platform manajemen royalti digital seperti PlayUp sudah mulai digunakan di berbagai warteg, khususnya di wilayah Jabodetabek.
"Tadi saya dengar warteg-warteg itu (sudah bayar royalti), tepuk tangan buat Paguyuban Warteg. Ini bagus sekali, warteg saja sudah bayar royalti," kata Dharma saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Dharma menekankan penggunaan musik di ruang publik termasuk pusat perbelanjaan, kafe, dan restoran wajib membayar royalti kepada pemilik hak cipta.
Ia mengungkapkan, hingga kini sudah ada sekitar 50 warteg yang tercatat membayar royalti melalui PlayUp.
Baca juga: Trik Pedagang Warteg Siasati Pedasnya Harga Cabai: Campur Lada dengan Sambal Instan
"Bayar royalti tidak membuat usaha bangkrut. Tapi dengan membayar royalti, kita tidak merampas hak orang," jelasnya.
Dharma berharap langkah yang diambil warteg dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di sektor layanan publik lainnya.
"Bagaimana dengan restoran-restoran besar? Harus bayar royalti," pungkasnya.
Baca juga: Jokowi Gemar Makan di Warteg, Menantunya Erina Gudono Disorot karena Pamer Makan Omakase
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.