PMI Manufaktur Indonesia Tembus 53,6 Poin, Kemenkeu: Tertinggi Setelah India
Indeks PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,6 poin pada Februari 2025 atau tertinggi dalam 11 bulan terakhir.Ìý
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
Ìý
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan, Indeks PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,6 poin pada Februari 2025 atau tertinggi dalam 11 bulan terakhir.Ìý
Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, secara global PMI Manufaktur Indonesia menjadi yang tertinggi setelah India. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan pesanan baru, serta peningkatan produksi dan aktivitas pembelian yang lebih baik.Ìý
Baca juga: Manufaktur Indonesia Paling Cerah di ASEAN Selama Februari 2025, PMI Sentuh 53,6 Poin
"Meskipun perekonomian global dan situasi geopolitik saat ini membawa tantangan besar dan sulit diprediksi, capaian ini memberikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah tetap antisipatif terhadap perubahan kondisi global dan terus memperkuat kebijakan untuk mendukung sektor manufaktur serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Febrio dalam keterangannya, dikutip Kamis (6/3/2025).
Febrio mengatakan, selain manufaktur indikator konsumsi domestik juga masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan global. Indeks Kepuasan Konsumen (IKK) tercatat di level 127,2 pada Januari, dan diharapkan masih akan ekspansif di tengah tantangan yang ada.Ìý
Sementara itu, Indeks Penjualan Ritel (IPR) tetap tumbuh 0,4 persen pada periode yang sama, mencerminkan aktivitas daya beli masyarakat yang masih terjaga.Ìý
Baca juga: IKI Fase Ekspansi, Komisi VII: Kinerja Industri Nasional Tangguh dalam Ketidakpastian Ekonomi Global
"Perkembangan ini memberikan harapan bahwa konsumsi domestik masih dapat menjadi pilar dalam mendukung stabilitas harga dan menjaga kepercayaan konsumen untuk pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," tutur dia.
Sejalan dengan tren global, lanjut Febrio bahwa sebagian besar negara juga mengalami perbaikan PMI meskipun masih dalam zona kontraksi. Sementara, negara mitra dagang utama Indonesia mencatatkan ekspansi, seperti di Amerika Serikat (51,6), China (50,8) dan India (57,1), menunjukkan permintaan global yang tetap solid.Ìý
Meski begitu, ketidakpastian ekonomi global serta dinamika geopolitik tetap menjadi faktor yang perlu di waspadai. Pada Februari 2025 terjadi deflasi 0,09 persen secara tahunan yang sebagian besar dipengaruhi oleh program diskon tarif listrik 50 persen pada Januari dan Febuari 2025.Ìý
"Diskon tarif listrik yang diberikan akan menyebabkan angka inflasi yang rendah dalam beberapa bulan ke depan. Program ini merupakan bagian dari serangkaian paket kebijakan stimulus ekonomi yang diberikan untuk menjaga daya beli masyarakat," lanjut Febrio.
Febrio menyebut bahwa kebijakan program diskon tarif listrik berdampak pada tren deflasi komponen Administered Price. Pada Februari, komponen ini mengalami deflasi 9,02 persen secara tahunan. Di sisi lain, inflasi masih tercatat pada tarif air minum PAM dan rokok.Ìý
Untuk komponen inflasi inti, tren penguatan masih berlanjut mencapai 2,48 persen secara tahunan yang didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan rekreasi. Perkembangan inflasi inti diekspektasikan menjadi sinyal daya beli yang terjaga.Ìý
Sementara, pada komponen inflasi pangan bergejolak mulai melandai yang dipengaruhi oleh harga pangan yang terus terkendali, mencapai 0,56 persen secara tahunan. Inflasi pangan diperkirakan terus stabil seiring mulai masuknya panen raya padi dan peningkatan produksi hortikultura.Ìý
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa kinerja industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan hasil positif. Tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur pada Februari 2025 yang menyentuh angka 53,6 poin.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.